Bentuk Futuristik F-26 STALMA The Sixth Generation Fighter

Bentuknya futuristik, unik dan cenderung aneh. Penempatan sayap ayun( Swing Wing) dan sayap bebek ( Canard ) yang menyambung, kalo dilihat dari bawah sayap F-26 terlihat seperti huruf X.

Keanehan lainnya adalah hanya memiliki satu mesin. Selainnya adalah thrust vectoring dan karakteristik low observability atau stealth serta kemampuan jelajah supercruise. Berasal dari pabrikan yang kurang dikenal publik, F-26 sebenarnya termasuk salah satu konsep yang diajukan Stavatti Heavy Industries Ltd dalam proyek MRF (multi role fighter) AU AS pada era 1990-an. STALMA singkatan dari Short Take-off Advanced Light Multirole Aircraft. 

Pengembangan jet ini dimulai tahun 1994 sebagai salah satu kandidat dalam proyek MRF sebagai pengganti dari F-16 dan F/A-18. Terdepak dari program MRF tidak membuat Stavetti patah arang. Pengembangan terus dilakukan dengan sasaran pembeli dari kalangan negara-negara NATO. Pesawat berekor v-tail ini dibuat untuk menghadapi proyeksi kebutuhan fighter dunia yang mencapai 6.000 unit pada paruh awal abad 21. F-26 diharapkan mampu meraih 14 persen pangsa pasar pesawat tempur dunia dengan harga 40-60 juta dollar/unit. Stavatti berharap akan segera memulai LRIP (low rate initial production) sejumlah 100 unit pada tahun 2007-2009. Suatu harapan yang cukup besar mengingat prototip pertamanya, YF-26 terbang perdana 2005. Prototip kedua terbang perdana setahun kemudian. Ekor v-tail pada jet ini disebut juga ruddervator ( rudder dan elevator ) yang bisa digerakkan dalam sudut 40-82 derajat. Pesawat ini rencananya akan ditenagai mesin yang sama dengan Raptor atau JSF dengan thrust 40.000 pon. Mesin yang digunakan kemungkinan besar Pratt & Whitney tipe F-119PW-100 atau F-135 atau mungkin General Electric F-136. Mesin dengan afterburner ini nantinya akan dikontrol sistem FADEC (fully authority digital engine control) dan terintegrasi dengan thrust vectoring nozzle yang asimetrik dan low observable di bagian belakang pesawat.

Keunikan lain jet ini adalah kemampuannya menyalakan mesin tanpa bantuan APU eksternal. Dengan kata lain pesawat APU internal tipe Allied Signal G250 APU. Kemampuan self-start F-26 otomatis mendongkrak kemampuan dan kesiapan operasi. Kapabilitas air refuelling dilakukan lewat probe di punggung atau probe flying boom di hidung. Urusan kursi lontar, pilihan jatuh pada Martin Baker MK16 zero-zero ejection seat. Selain itu juga sudah mengadopsi HOTAS ( hands on throttle and stick ) dengan empat layar MFD ( multi function display ). Pilot makin kaya data dengan digunakannya helmet cueing system dan night vision google plus HUD type Ericsson EP-17. Semuanya dikontrol fly by wire digital quadruplex (empat lapis ) buatan Lockheed Martin. Radar berasal dari tipe AN/APG-79 buatan Raytheon yang juga akan dipakai di F/A-18E/F Super Hornet.
ACTIVE STEALTH

Kemampuan stealth diperoleh dari pemakaian bahan campuran titanium, serat carbon, komposit thermoset dan thermo plastik. Bahan ini mampu meloloskan gelobang radar. Dan yang paling penting sebenarnya adalah teknologi Cold Plasma Cavity Active Stealth Teknologi.

Bingungkan? Begini, pada prinsipnya di antara kulit luar pesawat ada semacam lapisan alloy geodetic yang disebut cavity. Dalam cavity inilah dapat dicapai plasma bersuhu rendah yang dimanipulasi secara aktif oleh komputer pesawat sehingga menghasilkan teknologi active stealth segala arah (all aspects). Saat dites, dalam kondisi tanpa senjata eksternal RCS ( radar cross section ) hanya 0,006m2. Untuk menjaga sifat stealth ketika membawa muatan eksternal, pesawat dilengkapi dispenser RETS ( radar ellusive tactical stores ). Selain persenjataan internal dengan kapasitas 1.000 pon yang mampu menampung SDB ( small diameter bomb ), F-26 juga dilengkapi kanon kaliber 20mm Vulcan M61A21.000 round dengan kemampuan tembak 100 peluru per detik. Persenjataan eksternal memiliki kapasitas 25.000 pon yang mencakup AIM-9, AIM-120, Skyflash, AGM-65, GBU-32 dan lain-lain.


Jet dengan g-force limit +9G ini diklaim dunia sebagai jet single engine tercepat di dunia. Kecepatannya mencapai Mach 2,4. F-26 STALMA akan diproduksi dalam dua varian: F-26S single seat dan F-26T fighter/trainer konfigurasi kursi ganda. Saat ini juga tengah dipelajari kemungkinan membuat naval version berpangkalan di kapal induk. Pesawat ini diperkirakan memiliki umur pakai 15.000 jam terbang dengan rata-rata 500 jam terbang/bulan. Dengan segala kelebihan dan kemampuannya, tak heran kalau Stavatti Heavy Industries mengklaim pesawat ini sebagai The Sixth Generation Fighter.
BAGIKAN PRINT
Bentuk Futuristik F-26 STALMA The Sixth Generation Fighter - Written by Unknown , Published at 10.29 . And Have 0 comments

BACA JUGA ARTIKEL MENARIK LAINYA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015. DIKABARKAN. Powered by Blogger